Kebutuhan, Keinginan, dan Kemiskinan KPM

Anton Prasetyo

 

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase kemiskinan rakyat Indonesia cenderung menurun. Meskipun demikian, data ini bukan menunjukkan bahwa rakyat Indonesia sudah tidak banyak yang miskin. Pada Maret 2018, BPS juga mencatat bahwa persentase kemiskinan sebesar 9,82 persen atau kisaran 25,95 juta orang. Artinya, pekerjaan rumah (PR) pengentasan kemiskinan di negeri yang berlimpah sumber daya alamnya ini masih harus terus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program prioritas pemerintah yang diharapkan dapat mengatasi masalah kemiskinan masyarakat. Di tahun 2018, pemerintah memberikan bantuan PKH kepada 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Bantuan pokok yang diberikan adalah uang sejumlah Rp 2 juta untuk KPM yang memiliki komponen kesejahteraan dan Rp 1,89 juta untuk KPM yang memiliki komponen kesehatan dan pendidikan. Di samping itu, KPM juga berhak mendapat bantuan komplementaritas, semisal Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), jaminan kesehatan, jaminan kesehatan, dan lain sebagainya.

Upaya pemerintah ini cukup berhasil dalam “pengentasan” kemiskinan jangka pendek. Terbukti, data BPS menunjukkan bahwa persentase jumlah kemiskinan penduduk Indonesia terus menurun. Hanya saja, upaya ini tidak bisa cukup ampuh dalam “memutus mata rantai kemiskinan” jangka panjang.

Family Development Session (FDS) atau dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan istilah Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) merupakan sebuah tool (alat) untuk mengubah perilaku KPM. Dalam bidang ekonomi, FDS diharapkan agar seluruh KPM mampu mengelola keuangan keluarga. Jangan sampai pemasukan ekonomi keluarga lebih besar daripada pengeluaran. Dalam materi ini, KPM diharapkan mampu menghiting pendapatan dan pengeluaran keluarga masing-masing.

Dalam praktiknya, KPM sering kali menemukan bahwa arus pendapatan dan pengeluaran keluarga tidak seimbang, jauh lebih besar pengeluaran. Dalam pada itulah, pada sesi FDS selanjutnya, KPM diharapkan mampu memahami sekaligus menyadari arti penting “kebutuhan” dan “keinginan”. Jika kebutuhan harus dipenuhi sementara keinginan dapat ditunda atau bahkan dibatalkan. Contoh kebutuhan adalah makan, bayar SPP sekolah, bayar utang, dan lain sebagainya. Sementara, keinginan antara lain membeli tas baru padahal tas lama masih layak digunakan, rokok, perhiasan mewah, dan lain sebagainya. Penentuan “kebutuhan” atau “keinginan” tidak merujuk pada objek, namun pada kemanfaatan. Misal membeli kulkas, bisa menjadi kebutuhan namun juga bisa menjadi keinginan. Kulkas bisa menjadi kebutuhan manakala sangat mendukung usaha ekonomi keluarga. Kulkas menjadi keinginan manakala membeli karena gengsi dengan tetangga.

Pada tahap selanjutnya, KPM diharapkan mampu menabung dan cerdas berutang. Hal ini menjadi penting karena sering kali dalam keluarga terdapat kebutuhan yang bersifat insedental. Kebuthan semacam ini tidak dapat diprediksi dalam arus ekonomi keluarga. Sebagai misal, dalam keluarga sering kali salah satu anggota keluarga mengalami sakit. Jika hal ini yang terjadi, maka mereka harus mengeluarkan uang yang tidak terduga. Untuk itulah, KPM diharapkan dapat menabung dengan baik. KPM diharapkan sadar bahwa menabung secara kontinu, meskipun dengan nominal sedikit kedepannya akan menjadi bukit. Selain itu, ketika terpaksa harus mengutang, KPM mesti bisa memilih tempat berutang yang tidak memiliki resiko besar.

Dalam pemenuhan ekonomi keluarga, KPM juga diberi petunjuk untuk dapat mengenali potensi diri sehingga dapat mengembangkan sumber daya manusia (SDM) keluarga dan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) di sekitarnya. Dengen mengenali potensi potensi keduanya, mereka diharapkan bisa memiliki ide usaha produktif. Setelah memiliki ide usaha mereka diberi petunjuk untuk bisa menjalankan usaha tersebut sehingga bisa membuahkan hasil yang maksimal. Salah satu hal yang penting adalah pemisahan antara uang keluarga dan modal usaha. Jangan sampai uang usaha habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena telah tercampur.

Ketika setiap keluarga sudah mampu dan sadar akan arti penting mengelola ekonomi keluarga berikut usaha yang mesti dilakukan, diharapkan mereka akan menjadi keluarga yang mandiri dan sejahtera. Investasi penyadaran kepada keluarga miskin semacam ini akan memberikan manfaat yang besar dalam pemutusan rantai kemiskinan di masa mendatang. Lebih-lebih, upaya ini juga dibarengi dengan upaya yang lain semisal menyiapkan SDM keluarga yang hebat melalui pendidikan.

Wallahu a’lam.

 

Anton Prasetyo

Pendamping Sosial PKH Kabupaten Gunungkidul

 

Sumber: SKH. Kedaulatan Rakyat, 27 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *