Pasangan Suami Istri Petani Bisa Berangkat ke Tanah Suci

Kulon Progo, 26 September 2018

Ibadah ke Tanah Suci  merupakan  cita-cita semua umat muslim di dunia ini. Banyak yang ingin melaksanakan rukun islam kelima tersebut. Ketika ingin disertai niat namun biaya tidak mencukupi adalah salah satu kendala untuk kesana. Orang Jawa sering mengatakan setelah 45 hari orang sepulang haji maka doa-doa yang diucapkan mereka masih terkabul. Untuk itu kamipun silaturahim menemui sepasang KPM yang baru tanggal 5 September 2018 sampai di rumahnya Kulon Progo selepas menunaikan ibadah haji.  “Cita-cita untuk naik haji sudah dari lama, namun yang benar-benar niat baru tahun 2006” kata ibu berumur 75 tahun ini menjawab pertanyaan awal kami.

Bapak Amaddolah (78) dan Ibu Wakidah (75) adalah pasangan yang baru masuk PKH pada tahun 2017 dengan komponen lansia. Mereka sehari-harinya bekerja sebagai petani cengkeh, cabe dan beternak beberapa hewan. Seperti yang diceritakan diatas mereka sudah i

ngin naik haji sejak lama, namun baru sebenar-benarnya tergerak niat tahun 2006 sehabis mendengarkan nasehat pengajian di masjid. Sedikit demi sedikit uang dari hasil panen pertanian mereka. Harga cengkeh dan cabe tidak menentu, naik-turun di pasaran. “Alhamdulillah mbak pernah cabe  waktu itu 30 ribu per kg, di pasar Jakarta sampai seratus ribu lebih per kilonya”. Setelah mengetahui uang yang ditabung sudah cukup untuk mendaftarkan haji, Ibu Wakidah meminta tolong putranya untuk menabung di bank dekat kecamatan Samigaluh. Saat itu dari berita dan pihak bank memperkirakan dapat berangkat ke Tanah Suci sekitar 10-15 tahun lagi tergantung kuota dari pihak pemerintah Arab.

Pada tahun 2017 akhir, mereka diberi tahu oleh putranya bahwa masuk ke kuota haji pada tahun 2018 dan harus segera membayar kekurangannya agar tetap bisa berangkat pada tahun ini. Dengan sigap mereka langsung mengecek tabungan nya, ternyata kurang sehingga mereka harus menjual hewan ternaknya yang dia punya seperti, sapi, mentok, kayu-kayu dan pohon. “Alhamdulillah sapi, mentok, wit karo kayu tak dol kabeh mbak dingo nutupi kekuran

gane niku, sakniki pun boten gadah ingon-ingon” kata Ibu dari tiga putra ini.

Ibu Wakidah dapat mengikuti ibadah haji secara penuh, sedangkan untuk suaminya dengan kondisi yang sudah sepuh selama di Mekkah ataupun Madinah menggunakan kursi roda yang didorong, dibantu oleh teman satu kelompok haji dari Kulon Progo. Namun bersyukurnya selama disana mereka tetap sehat dan dapat mengikuti serangakaian haji, umrah.

Sepasang suami dan istri sangat bersyukur dapat pulang haji dengan sehat dan selamat. “Rencang-rencang kulo ten mriko kabeh niku guru, dosen pegawai, sik petani nggeh ming kulo mbak ” sambil tersenyum Ibu Wakidah berkata demikian.

“Saya merinding mendengarkan kisahnya, dengan kondisi yang seadanya, sampun sepuh, tapi saget mriko, semoga saya dan teman-teman yang lain bisa nyusul kayak Mbah nggeh ”kata mbak Ika pendamping PKH Samigaluh, dijawab bebarengan oleh sepasang suami istri petani “Aamiin” menutup pertemuan silaturahim pada sore ini.

Semoga cerita ini dapat menginspirasi bagi yang membaca untuk selalu semangat untuk menggapai cita-cita yang belum terwujud.

Sari Khasanah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *