Ibu Yatiyem Pengusaha Sovenir Graduasi Mandiri

Kamis, 12 Juli 2018 Qomariah sebagai pendamping sosial PKH seperti biasa melakukan Pertemuan Kelompok di Dusun Depok. Seperti biasa ia awali dengan pembukaan, pemutakhiran lalu dilanjutkan dengan menyampaikan materi FDS Sesi 2 mengenai meningkatkan perilaku baik dan mengurangi perilaku buruk anak. Seusai penyampaian selesai dan ditutup pertemuan pada hari tersebut, terdapat seorang ibu yang tidak langsung beranjak pergi dari tempatnya. Perempuan tersebut menghampiri pendamping dan  menyampikan keinginannya dengan mantap bahwa ia ingin berhenti dari PKH ini. Siapakah Ibu ini ?

Ibu ini bernama ibu Yatiyem beralamat di Depok RT/RW:47/24 Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo. Beliau bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga dan membuat souvenir pernikahan. Kegiatan membuat sovenir pernikahan ini sudah dilakukan lebih dari 10 tahun. Awalnya Ibu Yatiyem dan suaminya menekuni  membuat souvenir seperti gantungan bell, jaring-jaring laba-laba, dan keterampilan lainnya namun tidak laku lama di pasaran karena banyak yang meniru. Akhirnya ibu ini pun mencoba membuat gantungan kunci souvenir dari benang dan syukurnya sampai saat ini masih sering mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak, dahulu ia menjadikan membuat barang sovenir ini menjadi pekerjaan pokok bersama suaminya. Namun setelah suaminya menjadi tukang  barang rongsok dari pabrik yang berada di sekitar rumahnya dan bisa dijual dengan keuntungan yang lumayan ia mulai menjadikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan sampingan. Alasan lain menjadi pekerjaan sampingan karena juga harus merawat 3 putrinya. Beliau bercerita sempat kehilangan 2 calon bayi di masa kandungan 7 bulan sehingga ia memutuskan untuk bekerja sendiri.

Ibu Qomariah(Pendamping PKH) di tengah Ibu Yatiyem bersama 3 putrinya.

Alasan ia keluar dari PKH adalah motivasi dari para pendamping “Mbak pendamping dulu sering ngomong di pertemuan mbak, kalau sudah merasa cukup, boleh mengundurkan diri, kita tidak boleh bergantung pada bantuan pemerintah terus. ”tuturnya. Selain itu, karena yang dibawah atau lebih membutuhkan masih banyak kemudian omongan tidak enak dari tetangga tidak mendapatkan program ini sangat mengganggu mbak. Akhirnya ia pun mengatakan kepada suaminya untuk keluar dari PKH dan suaminya sangat mendukungnya. Harapannya kepada teman-teman PKH senang awalnya bisa berkenalan dengan teman senasib, namun agar bisa mandiri, tidak bergantung dengan program pemerintah ini “Ya kalau butuh pasti butuh mbak, tapi masak iya gini terus”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *